Pemuja Rahasia Part 1

Pemuja Rahasia Part 1 : Cerita :

Pemuja rahasia ? Apakah aku tidak lelah menyembunyikan perasaanku ini ? Apakah aku sanggup bertahan ? Ya,aku tetap mencoba menyimpan perasaanku ini ..
__



“Ris,kok diam terus kau ?” ,tanya edu
“Gapapa du ,lagi banyak pikiran aja” jawabku dengan halus.
Saat itu semua pertanyaan dari edu kujawab dengan singkat karena sebenarnya aku sedang merasakan patah hati setelah putus cinta ..
“Yauda ,main basket yuuuk ris? ”
“Yauda ,kita ke lapangan basket yok du ”.
Aku memang gemar bermain basket karena basket itu bukan sekedar olahraga tapi dapat menghilangkan stress dalam hidupku .


Setelah lelah bermain, aku dan edu duduk dibawah pohon sekolah sambil bercerita-cerita diteriknya matahari siang itu .
“Du,punya teman cewek gak? “ ,tanyaku serius
“Banyak ris ,mau juniorku ?? ”
Kebetulan temanku edu salah satu anak organisasi dan ketua organisasi tersebut disekolahku .
“Juniormu yg mana ini ? ” .
“Nanti sore aja ris ketika kami latihan kau datang aja ” .
Sebenarnya aku cuma mau jadiin cewek ini sebagai pelarianku setelah patah hati kemarin ,memang terkesan jahat tapi hanya itu yang bisa kulakuin kalau sedang patah hati ,banyak cewek-cewek yang sekedar tempat pelampiasanku dari sakit hati , kebetulan lagi hari itu aku ada latihan basket tim sekolah sore hari juga .. dengan penuh semangat ketika bel pulang sekolah berbunyi aku langsung menuju rumah untuk beristirahat sejenak dan memakai kostum basket kesayanganku untuk sore harinya .

Sesampai di sekolah aku duduk dilapangan basket untuk pemanasan dan suasana sore itu sungguh ramai banyak anak-anak organisasi sedang latihan ..

“Riiiisssss!! ” teriak edu dari jauh sambil berjalan ke arahku.
“Apa du? ”
“Itu cewek yang aku bilang tadi siang samamu! ”  sambil menunjuk si cewek .

Wow , Dia gadis yang lucu ,manis , putih ,ceria ..
Seketika hatiku langsung terhanyut seketika mataku langsung tergoda melihat sosok gadis secantik dia yang memakai kaos hijau dengan celana training yang sedang latihan dari kejauhan .
Apakah aku ini jatuh cinta ? Kenapa wajah dia membuat aku tersenyum ? .
“Oh ,itu du,lumayanlah “ ,jawabku sok nolak
“Mau gak kau ris? ”
“Enggaklah ,aku lagi malas du ”
Memang sebelum-sebelumnya aku bukan tipe cowok yang selalu duluan mendekati cewek ,biasanya si cewek yang mendekatiku melalui social media , sms ,sering juga aku disebut cowok flat .

Tak terasa 2 hari berlalu sejak kutemui sosok secantik itu disekolah , dalam jalanku dalam tidurku dimana pun aku berada bayang-bayang wajah manis itu selalu berputar-putar dikepalaku .
Saat jam istirahat biasanya aku selalu duduk di dekat kelas dengan teman sekelasku edu dan jason dari kejauhan aku melihat sosok itu lagi datang ke arahku seperti ingin lewat dihadapanku ,sosok penuh kharisma ,pendiam , dengan berjalan penuh anggun semakin dekat ,semakin dekat lagi kharisma dia makin membuat jantungku semakin berdetak dengan kencang sampai akhirnya ....dia melewati kami dan bergegas perlahan-lahan  menjauh dari pandanganku .
Seketika itu aku semakin penasaran aku semakin tergila-gila aku semakin terdiam tanpa sepatah kata dengan jantung yang terus berdetak dengan kencang .

“Ris ,kok wajahmu termenung gitu? ” tegur jason seketika.
“Gapapa son ,bingung mikirin pelajaran fisika ini ” .
“Hahaha ,si haris kan baru melihat bidadari lewat itu” ucap edu dengan nada lantang .
“Bidadari yang mana ini du? ”
“Itu son yang  lewat barusan  cewek tak terlalu tinggi tak terlalu pendek ”
“Oh ,itu target barumu ris? Haha ”
Aku langsung bergegas pergi meninggalkan mereka dan  masuk ke dalam kelas sebelum mereka terus menertawakanku .

Semakin hari aku terus penasaran hingga aku bertanya-tanya kepada teman-temanku tentang gadis itu tentang perilaku dia dikelas ,dikeseharian ,alamat tinggalnya dimana ,hingga hal yang tak perlu aku tanyakan pun aku tanyakan .
“Dut ,kenal sama gadis yang bernama *---*? ” tanyaku pada temanku si badan gendut
“Kenal ris,kenapa emangnya? ”
“Cemana itu orangnya ? ”
“Baik,ramah,pintar,rajin ibadah,kenapasih ris?? ”
“Gapapa dut !! “

Disitu aku baru tahu gadis itu tak sekedar cantik tapi dia adalah salah satu siswi yang selalu mendapatkan ranking kelas disetiap tahunnya ,semakin aku terus mendengar jawaban dari si gendut maka semakin aku tergila-gila padanya .

Diesok harinya sambil memakai headset kujalankan playlist lagu lagu jatuh cinta dari handphoneku di kantin yang pada saat itu jam istirahat disekolahku .Di kantin ini biasanya semua gosip-gosip terakbar diceritain di sini ,merasa tak peduli dengan ramainya suasana disini aku hanya terus mendengar lagu-lagu di handphoneku .
Tak kusangka tak kuduga dia perlahan menuju kantin ingin membeli sebotol air mineral dan posisiku duduk saat itu tak jauh dari tempat dia berdiri .
“Mas ,beli 1 botol airnya ya “ ucapnya kepada Tuan kantin

Pertama kalinya kudengar suara seindah ini suara yang lembut ...

“Du ,kapan kalian latihan? ”.
“Sore ini ris ”.
“Pukul berapa ? ”
“Biasa ,pukul 4 sore”.

Disore harinya, aku beserta  kostum basket nomor 10 ku lengkap dengan sepatu mulai latihan dengan rekan-rekan yang lain .
Ya seperti biasa aku selalu curi-curi pandang kepada gadis yang sedang latihan organisasi juga .
“Ris ,seriuslah latihannya ”,  tegur Jason tiba-tiba .
“Iya iya son kurang enak badan aku “
“Kurang enak badan atau kurang bisa lihat adek itu? Hahaha “.
“Maybe no maybe yes “ .

Sore itu memang aku bermain buruk ,shoot shootku jarang bisa masuk ke dalam ring seperti biasanya hingga sering kali aku dibentak oleh pelatihku saat itu . Aku tak peduli aku hanya berpikir datang ke sekolah hanya untuk melihat gadis itu .
Kenapa saat melihat dia hatiku tenang ? Ya aku suka dia .
Setelah sekolah sepi aku menghampiri edu yang sedang duduk dibawah pohon dekat pos satpam sekolahku.
“Du ,punya nomor adek itu? ”.
“Hahaha ,kemarin sok nolak ris ”.
“Seriuslah du,ada atau enggak? “.
“Ada “ sambil memeriksa handphonenya .
“Ini ris nomornya “ ucapnya lagi .
“Oke du hahaha “

Sekarang aku sudah punya nomor dia tapi aku sama sekali tak punya nyali untuk mengirimkan pesan singkat kepadanya ,hal yang bodoh bagiku takut mendekati seorang cewek belum punya KTP .
Mungkin ini disebabkan karna aku mungkin tak pernah mendekati cewek duluan sebelumnya ,bagiku hal yang memalukan untuk mendekati duluan .Hingga akhirnya kubulatkan tekad dan keberanianku untuk sekedar mengirimkan sebuah pesan singkat (sms) ke nomor dia .Aku harus kirim apa ini ? “Boleh kenalan?” ah ini berlebihan , saat itu aku bingung terparah dalam hidupku .

Akhirnya aku cuma mengirimkan kata “Halo J” ke nomor dia tanpa memikirkan malu ..
Kutunggu balasan dari sms ku ternyata tidak ada balasan cukup lama hingga aku mulai pesimis tak menentu ..
2 jam kemudian handphoneku bergetar dan ternyata benar itu balasan dari gadis itu . Seketika seperti orang gila aku kegirangan menerima balasan sms dari dia .
“Halo J
“Ya ”.
“Nama kamu *sensor* ya?”
“ Y ”.

Bumi berputar 360 derajat aku langsung galau seketika membaca sms sangat singkat dari dia walau aku belum memberitahu namaku .Aku tak bisa balas apa apa lagi setelah sms terakhir itu ,dari situ aku mulai pesimis untuk mendekati dia dan berpikir wanita bukan sesuatu yang gampang dan disepelekan .

__

Tepat 17 Agustus perayaan kemerdekaan Indonesia ke 64 saat itu ,seperti yang aku tahu organisasi edu selalu tampil dilapangan kota untuk menunjukkan aksi-aksi dari organisasi tersebut kepada bapak walikota dan jajarannya serta disaksikan oleh banyak warga kota yang antusias dalam hari kemerdekaan siang itu tentu saja si gadis itu pasti akan ada disana  .
Dari pagi aku sudah bergegas menghubungi jason untuk mengajaknya  ke lapangan kota ikut meramaikan hari kemerdekaan .Walau sebenarnya aku ingin melihat gadis itu tapi gengsi untuk memberitahukan yang sebenarnya kepada jason.
“Son ,nonton edu ke lapangan kota yok?”
“Yauda ris “

Panas terik matahari ,keramaian tak menyulutkan semangatku untuk melihat dia .Benar saja dia ada ditempat itu sedang tampil dihadapan ratusan warga kota .Wajahnya yang selalu memancarkan kharisma dengan make up dengan kostum menarik semakin menyejukkan hatiku walau matahari sangat terik .
Hari demi hari seperti biasa aku latihan basket dia latihan organisasi ,aku selalu memandangnya dari kejauhan hingga perilaku seperti ini menjadi kebiasaan hingga berbulan-bulan aku memendam suka terhadapnya .


3tahun sudah aku sudah bersekolah mencari ilmu disekolah ini ,berteman dengan sahabat-sahabatku dan bertemu dengan cinta .Sebentar lagi sudah mau Ujian Nasional tinggal hitungan minggu saja .
Dan seperti di sekolah lainnya pasti akan mengadakan Pensi atau perpisahan kelas 3 setiap tahunnya menjelang UN .
Setiap kelas 3 pasti sangat sibuk menjelang Ujian Nasional dan pihak sekolah mengadakan pensi sekedar memberikan hiburan sebelum menjalani ujian nanti .
Hari itu di sebuah gedung besar seluruh siswa berkumpul untuk merayakan pensi ini ,semua sungguh gembira semua tak peduli dengan ujian nanti ,mereka bergembira ,bernyanyi ,berjoget ,sementara aku diatas tempat duduk hanya diam di keramaian dan suara musik yang sangat keras digedung itu .
“Ris ,kok diam diam aja ?’’ Tegur temanku .
“Lagi malas aja “.
“Kok malas-malas ? sudah ayo kita bergembira bersama” .
“Kalian saja deh ,aku mau sendiri aja “.

Berjam-jam aku cuma duduk dan melihat teman-teman kelas 3 semua bergembira ,berfoto bersama dan aku cuma diam sendiri .
Yang aku cari cuma sosok gadis itu sepanjang acara ,aku melihat ke kanan aku melihat ke kiri aku melihat kebelakang sosok cantik itu sama sekali tak terlihat olehku yang pada saat itu mungkin ini hari terakhirku dapat melihat dia .
Hembusan nafasku tak normal seperti biasanya ,jantungku berdetak lemah ,akankah aku bisa melihat dia hari ini ? . Waktu semakin berjalan ,perasaanku makin gelisah tak menentu .

“Haris ,foto yuk?”
“Ah ,malas loh”
“Sekali aja ..”.
“Oke deh “

Untuk berfoto saja berat rasanya untuk tersenyum ,aku memang tak bisa menyembunyikan kegelisahanku seperti aku menyembunyikan perasaan suka ku terhadapnya .Bayangnya tak ada untuk hari ini untuk yang terakhir kalinya tapi aku yakin suatu hari nanti kami pasti berjumpa bukan sebagai senior dan junior bukan sebagai anak sekolahan tapi kami pasti berjumpa kembali dengan sukses dengan gelar Sarjana Komputerku dan dia dengan gelarnya sendiri .

Seperti pepatah mengatakan “Kalau jodoh tak kemana “.

Hari terus berjalan bulan demi bulan kulalui ,akhirnya aku akan melanjutkan kuliah disalah satu perguruan tinggi swasta di Medan yang sudah dikenal dalam bidang informatika dan salah satu swasta terbaik didunia informatika .


___

Saat aku akan meninggalkan kota penuh cinta ini aku harus bisa melupakan dia karna perasaanku bukan sepenuhnya untuk dia dan masih banyak lagi cinta yang akan kutemui ditempat lain .Kegiatan perkuliahan pasti mampu mengisi kesepianku ditambah aku dan dia sudah beda kota dan bayang dia tak akan kutemui lagi di kota baruku ini .

Di jauh sana mungkin kamu takkan pernah mengenalku takkan pernah mengingat namaku takkan pernah mengingat wajahku takkan pernah mengetahui perasaan suka ku padamu ,aku cuma sekedar pemuja rahasia yang selalu bisa menjadi penikmat bayang indahmu dari kejauhan dengan hati yang tulus dan berharap takkan ada pria bodoh yang akan menyakitimu .


Aku telah selesai dengan segala pujaanku padamu aku ingin bisa tak mengingatmu lagi tapi yang tetap harus kamu ketahui aku pernah menyukaimu walaupun sekedar menjadi pemuja rahasiamu J

__















Cinta Akhir Sekolah

Cinta Akhir Sekolah - Cerita :
Apakah kamu masih mencintai pria yang sudah bertahun-tahun tak meresponmu itu?
Ya, aku tidak pernah merasa bosan menunggunya, aku benar-benar terpikat olehnya.
Terkadang aku terlalu egois untuk tidak dekat dengan yang lain hanya karena menunggu dia. Bukannya sok sempurna, hati yang kumiliki untuk dia sempurnakan, aku ingin memperjuangkannya.

“fir, kamu ada buku paket kimia?”, tanya dimas.
“eh ada nih, sebentar ya aku ambil dulu”.
Aku yang dari tadi memakai headset hampir tidak sadar ada yang mengajakku berbicara.
“ini bukunya dim”.
“oke pinjam ya, nanti habis mata pelajarannya aku kembalikan kok”
Sambil mencubit pipi kanan ku dia langsung pergi membawa buku kimia ku. Tak lupa pula sebelum aku meminjamkannya aku sempat memeriksa apakah ada catatan-catatan aneh di dalam buku itu.

Dimas cowo tinggi yang memiliki kharisma, cerdas, berambut cepak, ramah, lucu, dan dia sangat memiliki jiwa kepemimpinan. hal itu yang membuat adik kelas tergila-gila padanya saat dia memimpin suatu kegiatan organisasi di sekolah. Dia sosok kakak kelas yang tegas untuk urusan kepemimpinan, bahkan dia banyak mengajarkan hal untukku.
Tak terasa sudah hampir 3 tahun penuh aku menimba ilmu di sekolah ini, tempat yang mengajarkan aku berbagai hal termasuk cinta.
Hanya tinggal hitungan bulan aku tidak akan menikmati masa-masa belajar di sekolah ini, semua akan kutinggalkan demi melanjut ke jenjang yang lebih tinggi yaitu kuliah.
Berbagai kenangan akan kutinggalkan, menghilang dengan jejak yang masih bisa ku lihat. aku pasti selalu ingat tentang sekolah ini dan aku pasti selalu ingat dia.
Tak terasa tinggal hitungan hari lagi kami akan menghadapi UAS setelah UTS berlalu 2 bulan yang lalu.
Proses belajar mengajar pun tidak lagi rutin untuk dilakukan terhadap kelas 12 karena guru-guru cukup mengerti sehingga memberikan kami sedikit waktu santai.

Aku duduk di depan kelas sambil menjalankan playlist ku, tiba-tiba pandanganku berhenti pada satu cowo tinggi berjaket hitam itu, ya itu dimas dan… sedang apa dia dengan andini? sepertinya mereka sedang bicara serius. tadi memang aku melihat pacar nya andini adu mulut dengan dimas. Ya mungkin mereka menyelesaikan masalah itu.
“woy! ngeliatin siapa sih kamu?”, tiba-tiba shinta mengejutkanku.
“dih bikin kaget aja, itu si dimas ada masalah apa?”
“oh itu… sedikit masalah sama pacarnya karena dia bikin pacar nya andini cemburu padahal gak bermaksud seperti itu, salah paham saja”
“oh gitu… besok ada tanding futsal sekolah kita lawan methodist mau ikutan nonton gak?”
“oke, ketemu di sekolah ya pergi ke lapangan futsal nya bareng ajak yang lain juga”
“oke. sekarang yuk temenin aku ke kantin”
Sembari meninggalkan tempat berbincang tadi, ternyata pandanganku tak lepas dari sosok pria berjaket hitam itu. Ya aku terlalu penasaran dengan apa saja yang mereka bicarakan.


Ku lihat sosok itu, di tengah-tengah lapangan futsal pria tinggi berbadan ideal dengan nomor punggung 15, iya itu dimas.
“ayo bibi bibi bibi!!! glory-glory bibi!!!”, teriak shinta menyemangati salah satu pemain yang juga merupakan teman dekatnya.
Ketiga temannya dari pertama kali datang selalu ribut dan heboh, sedangkan aku? dari pertama kali memasuki lapangan futsal hal utama yang aku lakukan hanya mencari sosok tinggi itu.
Entah apa yang membuat pandanganku tak lepas dari sosoknya.
Dia memang sudah sering aku lihat tapi kali ini aku sadar ternyata aku bukan sekedar kagum ataupun rasa simpati terhadap teman seoraganisasi.
“horeeee menang!!!”, seru anak-anak. Ya akhirnya pertandingan selesai dan sekolah ku memasuki babak final, masih ada satu pertandingan lagi untuk menentukan ke tiga besar.
“dari tadi kamu kenapa diam aja? dari tadi ngeliatin siapa sih?”, tiba-tiba dinda mengajakku berbicara.
“eh.. enggak kok, aku bukan ngeliatin siapa-siapa. cowo kalau main futsal ternyata keren juga ya nda”
“ya memang iya, selama ini kamu ke mana aja?”, ledek dinda.

Pertandingan selesai, alhasil semakin ramai. Bahkan untuk jumpa sama pemain dari sekolah kami pun susah, akhirnya kita kumpul lagi di sekolah.
Entah apa yang membuatku sering memperhatikan dimas akhir-akhir ini, aku tak tahu aku hanya sekedar kagum atau lebih dari kagum padahal hampir setiap hari kita ketemu.
“makasih ya udah nonton kita tadi, kalian kocak teriak-teriak seperti itu ha ha ha”, kata dimas sambil menahan tawanya.
“eh aku engga ada teriak, shinta, tari, dinda tuh yang meneriaki kamu terus” sambungnya sambil ikut tertawa juga.
“iya deh yang penting makasih banyak ya, lusa kita ada tanding lagi untuk masuk ke final jangan lupa ya. aku menjumpai mereka dulu ya”, katanya sambil bergegas meninggalkan kami.
Dimas keringatan, mungkin dia butuh istirahat dan mungkin dia terlalu bosan bicara dengan aku yang hampir tiap hari selama 2 tahun lebih ini dia ajak ngobrol.
Terkadang ngobrol sama dia itu nyaman, walaupun terkadang dia lebih banyak mengejek dari pada bicara serius, tapi tetap aja itu tidak menjadi penghalangku untuk berhenti mengaguminya.
Baru terasa ketika mau tamat begini aku baru menyadarinya kalau dia memang pria yang selama ini ada di hatiku tetapi aku tidak pernah memastikannya.
Berawal dari kegiatan organisasi sekolah yang kebetulan ketua pelaksana nya adalah dimas, pada saat itu dia sering menitipkan handphone nya padaku, kemudian waktu acara makan bersama sanking laparnya aku makan di luar terus dia kesal gitu, terus aku juga merasa bersalah aku minta maaf dia maafin terus dia pergi gitu aja padahal handphone nya masih sama aku.
Ya bukan hanya itu aja sih, banyak lagi hal lain yang benar-benar membuat aku jatuh cinta terhadap pria berbadan tinggi ideal itu.
Kadang, aku sulit membedakan mana ketertarikan saat dan cinta beneran. Dua hal itu seakan tak punya perbedaan.


Ujian akhir sekolah pun berlalu dan ujian nasional di depan mata. Semakin hari aku semakin tidak bisa menahan perasaanku untuk tetap berpura-pura dan menjaga sikapku didepannya. aku tidak berbakat untuk tidak berpura-pura suka kamu.
Siang itu ketika jam istirahat aku sedang duduk-duduk di depan kelas dengan cewe yang kabarnya pernah dia sukain, selain mereka memang dekat layaknya kakak adik mereka juga sekelas dan dia juga merupakan kawan dekatku sendiri.
Entah mengapa, tiba-tiba dia lewat terus nyamperin tuh cewek terus dia ngelus-ngelus kepala tuh cewek. Aku yang diam-diam cemburu gini bisa apa? Terus berusaha menyembunyikan pandanganku untuk gak ngeliatin mereka alhasil aku ketangkap basah lagi ngeliat dia sinis, kemudian dia juga melihat aku dengan pandangan kosong.
Kemudian dia tidak bicara apa-apa dengan ku, ini beda, tak biasanya seperti ini.
Aku mencoba membiasakan diri sebagaimana biasanya. tapi alhasil aku tak bisa menahan perasaanku lagi, aku semakin canggung aku semakin yakin kalau dia itu udah tau yang sebenarnya.
Seperti pepatah “sejauh-jauhnya tupai melompat pasti jatuh juga” nah kalo ini, sepandai-pandai nya menyembunyikan perasaan pasti terungkap juga.
Waktu adalah uang, semakin aku tak punya waktu untuk bercerita tentang perasaanku semakin aku akan menyesal di kemudian hari.


Dia tak pernah tahu sejauh apa perasaanku terhadapnya, dia juga tak pernah tahu apa yang ku pendam selama 2 tahun ini berawal pertama kali menjadi kakak kelas di kelas sebelas semua terasa menakjubkan bila di ungkapkan, aku yang selama ini hanya teman biasa nya, teman celotehnya tiba-tiba angin membawakan hembusan cinta mungkin dia akan merasa risih denganku. Padahal cinta tak pernah salah.
“shin, bagaimana menurutmu jika aku mengungkapkan rasa sama orang yang selama ini tak pernah ku duga?”
“wajar-wajar saja asal ada kode etik nya ha ha ha memangnya siapa orang itu?”
“orang terdekat kita”
“siapa? apakah kamu yakin dia orangnya selama ini?”
“iya, dan bodohnya setelah hampir tamat begini aku baru menyadarnya”
“aku jadi semakin penasaran, siapa sih?”
“dimas”, tukasku dengan cepat dan singkat kemudian langsung tak kutatap lagi pandangan shinta yang penasaran itu karena malu.
“kenapa kamu bisa suka sama dia? jadi selama ini dia orang yang selalu membuatmu menunggu?”
“aku juga tak pernah menyadarinya, bahkan aku tak pernah cerita soal ini kan.”
Shinta hanya terdiam seperti ada sesuatu yang tak ingin di ungkapkannya padaku, aku tak memaksa, aku terus bercerita tentang apa yang terjadi selama dua tahun ini.
Semuanya terasa cepat berlalu, dan terlalu cepat untuk diungkapkan, selain dia tak pernah membuat respon positif terhadap sikapku tapi entahlah mungkin dia terlalu risih dengan teman yang menjadi cinta atau dia memiliki pujaan hati lain.


Hari semakin berlalu, hari semakin tak menjadi milikku. Yang biasa nya biasa aja tapi sekarang malah menjadi tak biasa.
Duduk-duduk di halaman depan sekolah itu memang menjadi hobby sepulang sekolah.
Aku menelentangkan kaki ku sambil mendengarkan lagu mengikuti alunan musik yang melow, masih kurasakan sapaan hangatnya, masih kurasakan cubitan nya di pipiku dan masih dapat kuterjemahkan tawa khas nya. tiba-tiba dimas yang baru datang langsung duduk dihadapanku dan melakukan hal yang serupa dengan ku, menelentangkan kedua kakinya.
Dan akhirnya kami saling berhadapan dan kedua telapak kaki kami saling bertemu, suatu kejanggalan tiba-tiba aku tak bernyali untuk mengajaknya berbicara dan dia pun mengalami hal yang sama padaku. Sorot mata nya tak lagi biasa terhadapku, kamu berdua saling curi pandang dan aku semakin tak berani untuk memulai bicara.
Ini seperti keegoisan, tak ada yang ingin memulai. Semuanya menjadi terasa aneh. Diam, senyap, tak ada suara antara aku dengan dia. Yang ada hanya dia dengan teman-teman ku.
Semakin hari aku semakin gelisah apa yang harus kulakukan dihadapannya, aku juga semakin merasa bersalah karena telah merusak hubungan pertemanan ini. Dia yang tak tahu seberapa lama aku memendamnya dan dia yang tak pernah inginkan aku. Mungkin Aku harus segera mengungkapkannya.


Hari ini adalah hari perpisahan kelas 12 tahun ajaran 2011/2013 acara ini dilaksanakan tepatnya 3 hari sebelum pelaksanaan Ujian Nasional.
“selamat pagi fira, cantik sekali hari ini tampil feminim” tiba-tiba shinta mengejutkanku dari belakang.
“kamu baru sekali ini memuji aku, kamu juga lebih cantik dari aku loh”
Fira asifha seorang gadis yang bukan tomboy namun juga bukan feminim baru sekali ini dirinya disebut feminim karena tidak pernah memakai short dress.
“dimas udah datang belum shin?”
“udah, dia ganteng sekali hari ini, aku saja hampir terpikat olehnya”
Sambil tersenyum menatapku shinta juga menyinggul siku tanganku.


Tak lama sebelum acara di mulai, semua kelas 12 baris berpasang-pasangan untuk memasuki gedung acara. Tanpa ku duga, semuanya terasa menyakitkan ketika dimas lewat hadapanku bergandengan tangan dengan cewe yang waktu itu kepala nya di elus-elus dihadapanku, Arista dewi.
Semakin suasana nya hening, semakin tetes air mata ingin membasahi pipiku, tetapi hati menguatkanku untuk tetap tegar pada saat itu, berusaha tersenyum mengabaikan kesedihan, berusaha menjaga pandangan agar tak terlihat, walaupun tak semudah yang dibayangkan tetapi tak sesulit yang terlihat.
Ku lihat sosok tinggi itu di sudut panggung, aku ingin sekali berbicara dengannya, akhirnya dengan sekuat hatiku kuberanikan diri.
“kamu liat shinta gak dim?”
“aku gak tau, tadi dia sama aku tapi setelah itu dia menghilang. ”
“hem ya udah deh, kamu mau ke mana?”
“aku nyari arista, aku mau menyatakan cinta kepadanya” bisiknya sambil tersenyum.
“kamu yakin? wah semoga lancar ya” aku berusaha menutupi segalanya, aku berusaha menutupi rasa yang ada.
“yakin dong, makasih banyak ya” sambil melontarkan senyumnya kemudian dia tinggalkanku yang sedang menangis di dalam hati.


Semua sibuk dengan urusan masing-masing, tatapan ku dan tatapannya yang selalu bertemu ternyata tidak berguna, aku selalu menyangka bahwa itu petanda kalau dia merasakan hal yang sama padaku.
Untuk saat-saat yang seperti ini sangat di sayangkan kalau tidak ada pengabadian, foto bareng dimas misalnya. Tapi dia mengesalkan, dia memanggilku tak ingin mengajak berfoto melainkan menyuruhku untuk mengambil gambarnya.
Aku terdiam di penghujung acara, saat doa dia berada disampingku sempat ku sentuh jemarinya secara tidak sengaja, namun kamu hanya tertawa kecil dan pergi tanpa tau betapa senangnya aku dapat menyentuh jemarimu.
Secara keadaan, jarak aku ke kamu tidak jauh tetapi jarak hati aku ke kamu yang membuat jauh, ada perbedaan yang aku rasakan namun kamu tak merasakan dan susahnya jadi aku yang tak bisa menahan perasaanku membuat semuanya berubah, kamu tak seperti dulu lagi yang suka bercanda.
Sungguh, di situasi seperti ini ingin kuteteskan air mataku tapi itu tidak menjadi kemungkinan bagiku karena ini bukan tempat yang tepat untuk melakukannya.
Ku tanya diriku sendiri, bolehkah anak gadis umur 17 tahun ini takut kehilangan kesempatannya untuk mengungkapkan perasaannya? Terkadang aku aku terlalu memaksakan kehendakku untuk tetap berdiri kokoh dan menjadi seorang gadis yang optimis untuk mendapatkan cintanya.


Sore yang mendung tetapi tak kunjung hujan ini membawaku ke dalam kegalauan, aku semakin tak kuasa menahan rasa cemburu ku. Bagaimana mungkin aku tak merasakan hebatnya gencaran jantungku saat mendengar bahwa dia akan menyatakan cinta kepada wanita yang sama sekali tak pernah ku duga? Haruskah aku menjadi seseorang yang egois untuk melarangnya menyatakan cinta kepada gadis pujaan hatinya?


Aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan di kursi pojok ini, dengan dia yang bercinta dan dengan aku yang sedang menahan emosiku melihat mereka bersendu gurau, tertawa seolah tak ada yang tersakiti, dan bercanda seolah tak ada yang tak senang. Langit semakin tak acuh, sesuai dengan isi hatiku. Kurasakan langkah-langkahnya kearahku, kurasakan sapaan hangatnya kearahku, tanpa kusadari, dia sedang berada disampingku sekarang.
“gambar kita berdua belum ada” Dia menatapku sambil tersenyum kemudian dipanggilnya seseorang untuk mengambil gambar aku dan dia. Ku lihat temannya menyembunyikan senyumannya melihat kami berdua berfoto.
Mungkin sesuatu yang aku anggap suatu kesenangan merupakan suatu keterbiasaan untuknya, itu karena dia tak mengerti arti sikap yang telah berubah, yang benar saja aku benar-benar mencintainya.
“dim, aku boleh bicara sesuatu?”
“kamu mau bicara apa? Ya bolehlah”
“tapi kamu jangan kaget ya?”
Dia semakin bingung dan sedikit canggung spertinya dia tahu apa yang akan kukatakan. Kuberanikan diriku, ku tarik nafas ku sejenak untuk memulainya.
“apakah kamu tidak merasakan perubahan sikapku terhadapmu belakangan ini?”
“rasakan”
“aku minta maaf ya kalau sudah membuatmu tak nyaman”
“apa yang salah? kenapa kamu minta maaf?”
“kamu ingat? Saat pertama kali kita menjadi teman?”
“ya aku ingat, saat pertemuan kita di suatu organisasi kan. Lalu mengapa dengan pertemuan itu?”
aku bagaikan kaktus yang memeluk dirinya sendiri, merasakan cinta sendiri, merasakan sakitnya sendiri.
“dari situ aku mulai mengagumimu semenjak itu, kurasa itu hal yang biasa tetapi semakin lama aku sadar itu tak hanya sekedar kagum. Jadi selama 2 tahun ini menyimpan perasaan yang tak pernah kamu tahu, aku minta maaf sudah membuatmu tak nyaman dengan sikapku… ”
“hah? kamu… serius?”
Dia hanya terdiam menatapku yang tak berani menatapnya. Perlahan mataku mulai berkaca-kaca.
“kamu tidak usah menjawab aku, kamu hanya perlu mendengar semua pengakuanku yang selama ini berpura-pura. Aku tak perlu jawaban, aku hanya perlu pengertian kalau kamu sudah tahu tolong jaga perasaannku.”
Dia hanya terus diam, diam, dan diam. Hujan pun akhirnya turun membasahi jalanan di depan gedung. Sepanjang waktu kami hanya diam dan aku sendiri semakin tak bisa menahan perasaanku bahkan aku berusaha menyembunyikan air mata yang tertahan ini, ternyata aku tidak berbakat untuk pura-pura tidak menahan air mataku.


Waktu terus berjalan, angin terus berhembus, aku semakin gelisah apa yang terjadi setelah aku mengungkapkan perasaanku. Apakah dia akan mengejarku dan berkata dia memiliki perasaan yang sama denganku atau dia mengejarku untuk berkata “maaf aku suka arista, bukan kamu” kalimat itu terlalu tajam untuk masuk ke hatiku.
Seiring berjalannya waktu, aku tak pernah lagi berbicara dengannya setelah kejadian “aku mencintainya” kemarin. Aku mulai melupakan kamu yang jauh, dan kita mulai terpisah jauh karena demi pencapaian masing-masing. Seharusnya yang permanen “kita” bukan “aku” dan “kamu” yang terpisah.
Sesuatu yang sudah terungkapkan walaupun hasilnya tak seperti yang diharapkan akan lega jika seseorang itu punya niat untuk tidak membohongi perasaannya lagi.



Hawa di kawasan ini yang membawa cinta, suatu angin yang menyampaikan perasaan, dan sesuatu jejak yang meningglkan kenangan. Ya aku ingat tentang 7 tahun yang lalu saat pertama kali kita kenal, dekat sebagai teman dan kita bertemu lagi di masa depan kita masing-masing dan di tempat ini lagi, tempat pertama kali aku mengagumimu yang ku anggap hanya sekedar kagum.
Aku memakai kemeja putihku dengan berstatus sebagai penulis dan kamu memakai seragam mu dengan berstatus polisi. masa depan kita mempertemukan kita kembali, di tempat yang sederhana ini namun ini merupakan awal yang luar biasa untukku.
“hai fir, kamu apa kabar?”
“hai juga dim, alhamdulillah kabar aku baik. kamu?”
“sama seperti kamu. Apa yang kamu rasakan stelah 5 tahun kita tak bertemu?
“haruskah aku menjawabnya?”
“tidak perlu, aku sudah tahu ha ha ha”
“ya kamu ga berubah dari dulu. Sudah sejauh apa hubunganmu dengan arista?”
“tidak sejauh apa-apa, kamu kira waktu itu aku nembak dia di terima gitu?”
Aku terdiam dan mentapnya dengan bingung, tanpa memikirkan apa-apa lagi aku terus berusaha meyakinkan apa maksudnya.
“aku di tolak, aku suka sama dia tetapi ku pikir dia memiliki hal yang sama ternyata tidak”
“hah…”
“kamu, sejauh apa sekarang perasaanmu dengan pria beberapa tahun yang lalu itu apakah masih dia yang ada dihatimu? apakah masih dia yang kamu perjuangkan?”
ucapnya sambil tertawa kecil. Aku tak menjawab, aku hanya tersenyum kecil dan langsung tak menatapnya. Apakah aku salah jika masih memperjuangkanmu, meskipun aku tak bilang?
Di awan-awan aku kembali dibawanya terbang, menerawang segala yang di langit aku kembali dibawakan terbang oleh cintanya. Aku kembali, kembali seperti saat pertama kali jatuh cinta, jelas aku sedang menikmati senyumnya saat ini. Kami di peretemukan kembali di tempat ini dengan sukses.

By : D.A

SEPI


Cerita : Sepi                                                                       pasih arti kata ‘sepi’ ini ? Sepi ini diartiin luas banget tergantung kita yang ngejalanin nya ..

Semua orang pernah merasakan sepi ,terkadang kita harus ke tempat ramai untuk menjauh dari sepi tapi ya memang sesaat saja dan saat kita menjauh dari tempat  ramai tersebut kita tetap akan merasakan sepi .

Apakah sepi itu Cuma dirasakan oleh para jomblo ???

Jawabannya mungkin saja Ya mungkin saja Tidak .. tak semua mereka yang mempunyai pacar atau sedang menjalani hubungan sepasang kekasih tidak merasa sepi ,banyak diantara mereka sepi kasih sayang dari kekasih mereka ,atau banyak juga yang sepi materi Hahaha ...

Dari segi positifnya kita ngejalanin sepi ini cukup bermanfaat misalnya ketika kita putus cinta kita pasti sudah tidak terlalu sedih karna sebelum sebelumnya sepi itu sudah melekat dihari-hari sebelum cinta itu hadir ..

So ,akankah sepi para jomblo lebih parah ?? Ya mungkin saja Ya mungkin saja Tidak (lagi) ,bedanya sepi jomblo dengan sepi mereka yang punya pacar yaa ketika yang punya kekasih sepi mereka bisa menghubungi kekasih mereka tetapi sang Jomblo Cuma bisa meluk guling dan bermimpi bertemu pevita pearce di alam bawah sadarnya .. :D



Posthardcore Pematangsiantar SumateraUtara

Posthardcore Pematangsiantar SumateraUtara : Musik :
Nih ane post soal musik indie ,ya spesifiknya dari kota Pematangsiantar ,Sumatera Utara ..
Salah satu genre yang sudah dikenal bagi para penikmat musik ini dengan sedikit cadas kata orang-orang sekarang hahaha .. yaitu posthardcore ,ya walaupun sering dibilang metal tanggung tapi tidak mematahkan semangat salah satu band posthardcore dari kota ini yaitu GreatRevenge ..


Band ini sudah berjalan sejak tahun 2010 lebih tepat nya 13 juni 2010 :) sebenarnya menurut info info simpang siur nya band ini sejak pertama dibentuk dengan genre screamo ala Killing Me Inside:D
Ya walaupun sekarang Killing Me Inside sudah masuk ke industri musik nasional dengan mereka sedikit menurunkan kadar genre mereka ke pop pop gitu dengan lagu "Biarlah" Hahaha ,kembali ke Great Revenge yg awalnya screamo ke posthardcore ,tentunya band ini silih berganti personil sejak 2010 hingga 2014 sudah ada sudah 3kali pergantian personil maupun alat musik yang dipegang .. Mereka telah mempunyai karya lagu sendiri dengan 4 lagu yang berjudul "Luka dihati,Kemunafikan,Tanpa Makna Tanpa Arti,Antithesis" download aja nih lagu mereka di sini  .
 Sudah dulu soal band posthardcore ,esok ane tulisin band band indie kota Medan ,P.Siantar :))


Admin Simonster :)